Giovani van Bronckhorst picture

Okay, World Cup is about to end.  Although almost lost my taste (ha ha), now I found something new to gain my new appetite for the game.  So, let’s watch the final match.

Piala Dunia sudah memasuki tahap puncak, yaitu partai final.  Pertandingan pamungkas ini akan mempertemukan kesebelasan Belanda dan kesebelasan Spanyol.   Sebenarnya sudah agak malas menonton Piala Dunia 2010 ini, karena, ha ha ha, jujur aja, saya menjagokan Jerman.  Apalagi ketika kesebelasan favorit saya ini melumat Inggris dan Argentina dengan skor telak.

Tetapi semuanya berakhir ketika tim La Furia Roja secara luarbiasa mengalahkan Der Panzer.  Saya sebut luarbiasa walaupun hanya menang tipis 1-0 tetapi Spanyol berhasil meredam semua keganasan para penyerang Jerman dan mematikan sama sekali gerakan-gerakan terobosoan cerdik dan eksplosif yang biasa mampu membunuh lawan-lawan Jerman sebelumnya.  Bahkan dalam pertandingan itu bisa dibilang 70% penguasaan bola ada di pihak Spanyol.

Tetapi pikir-pikir sayang juga melewatkan acara puncak salah satu perhelatan akbar, FIFA World Cup, yang 4 tahun sekali itu.  Wah harus ada jagoan baru nih.  Cari punya cari ternyata ada satu fakta yang cukup menarik.  Saya dapat dari membaca salah satu artikel di Tempo Interaktif dan artikel di Wikipedia tentang kapten tim Belanda, Giovani van Bronckhorst ternyata orang ini keturunan Maluku, Indonesia.  Dalam artikel di Tempo, dia bilang kakeknya adalah Lillipaly, sedangkan dalam artikel di Wikipedia tertulis bahwa hubungan dengan nusantara lebih dekat lagi karena ibunya adalah asal Maluku.

So, he has Maluku blood running in his veins!

Wah lumayan mendapat semangat baru untuk menonton pertandingan pamungkas World Cup ini.  Tadinya saya sudah bertekad mau menonton acara kuliner saja asalkan resepnya menggunakan daging gurita, tetapi sekarang saya masih mau menonton hingga laga pamungkas.  Giovanni van Bronckhorst sepertinya berhasil mengubahnya.

Link to Jakarta Post : Ambon Celebrates Links with ‘Der Oranje’

Related posts: